Ada berita lama yang diperbaharui: Para ahli pendidikan, pengamat pendidikan, cerdik pandai dan orangtua anak didik kita tiba-tiba menjadi sedih hatinya. Konon, penyebabnya, pengetahuan Bahasa Indonesia anak didik kita yang harapan bangsa ini, sangat buruk. Bahkan menduduki nilai terburuk setelah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dalam Ebtanas SMTA yang baru lalu. Menurut Anwar Jasin yang Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dna Menengah Depdikbud itu, pukul rata nilai Bahasa Indonesia pemuda harapan bangsa Indonesia itu, lebih rendah bila dibandingkan nilai mereka dalam bahasa Inggris.
Aneh? Mungkin tidak. Tapi memang sedikit lucu. Meskipun, berita ini bukan lagi baru, apalagi hangat. Ini berita lama yang terpaksa disuguhkan kembali karena memang masih "relevan" untuk kita simak dan pelajari baik-baik. Toh sudah lama kita maklum, para pemuda harapan bangsa kita ini memang tak lagi begitu mengenal (dan karena itu tak seberapa menghargai) bahasa nasionalnya. Mungkin, mereka lebih akrab dengan bahasa prokem. Boleh jadi, mereka juga lebih intim bergaul dengan bahasa Indonesia yang salah dan tidak benar, yang sengaja mereka lakukan untuk menunjukkan citra dirinya sebagai manusia modern.
Sekali lagi, semua ini tidak aneh. Keasingan mereka terhadap bahasa nasionalnya sendiri, tidak berbeda jauh artinya dengan keasingan terhadap kebudayaan nasionalnya atau sejarah nasional sendiri. Ini bukan semata-mata perkara mesin berpikir yang ada di batok kepalanya, tapi juga kebudayaan berpikir yang menyertai kepribadiannya, sampai kapan pun, selama kebudayaan berpikir para pelajar kita masih menganggap bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang tidak perlu dikenal dan tak guna disayang, maka selama itu pula mereka akan tetap asing dengan bahasa nasionalnya sendiri.
Bahasa, memang seperti minyak pelumas bagi sebuah mesin. Betapa pun canggih si mesin, tanpa minyak pelumas yang baik tak akan dapat bekerja dengan sempurna. Roda yang satu tak akan mampu memutar roda lainnya. Gigi yang satu tak dapat mengerakkan gigi lainnya. Dan rupanya, selama ini para pelajar kita sudah lama membiasakan diri (atau terbiasa oleh situasi dan lingkungan) untuk menggerakkan mesin berpikirnya dengan menggunakan minyak pelumas ramuan sendiri. Daripada menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang telah dibakukan, yang seminggu sekali disiarkan lewat televisi, yang dianjur-anjurkan untuk dipelajari dan dimengerti, mereka lebih senang mencipta bahasa pergaulan sendiri.
Dan, itulah suatu citra diri. Lambang kepribadian generasi muda yang ingin menunjukkan kepada khalayak, siapa mereka. Semakin kacau, semakin rusak dalam menggunakan bahsa Indonesia, mereka justru semakin bangga. Sama seperti halnya mereka juga bangga dengan memakai celana jean yang kumuh, luntur dan penuh tambal sulam itu.
Tapi sebaiknya janganlah menyalahkan mereka. Apalagi menimpakan semua kesalahan dalam penggunaan bahasa nasional kita ini kepadanya. Selain generasi muda, generasi tua kita pun telah lama memberi angin dan memberi contoh dalam pemakaian bahasa Indonesia hasil ramuan sendiri. Kelompok ini rupanya juga sudah lama memiliki citra diri, di mana lewat bahasa ramuannya sendiri itu ingin menunjukkan kepada khalayak, siapa mereka. Dengan sekedar mengubah akhiran kan menjadi ken, cukuplah untuk menunjukkan kepada masyarakat, bahwa si pembicara itu tentulah seorang pejabat. Apalagi bila dalam pidatonya penuh disertai kata daripada, maka paling tidak si pembicara itu berasal dari eselon atas. Mohon kiranya masyarakat berkenan menghormatinya.
Di negeri yang tata tentrem kerta raharja ini memang sudah lama dijangkiti suatu penyakit, di mana orang akan merasa nampak pintar bila banyak melanggar peraturan. Di jalan raya, pelanggaran lalu lintas tidak semata-mata karena yang bersangkutan ini cepat sampai di tujuan, tapi juga agar nampak jagoan. Mereka ngebut untuk menunjukkan bahwa dirinya bukan penakut.
Nah, bila di jalan raya yang dijaga banyak polisi lalu lintas saja masih sering terjadi pelanggaran lalu lintas, bagaimana pula dengan pemakaian bahasa yang tidak pernah diawasi oleh polisi bahasa, dan bila terjadi pelanggaran tidak ada resiko kepala remuk, malah sebaliknya gengsi bisa naik? Di negeri kita, agar nampak pintar, terpelajar dan berkedudukan terhormat, telah tersedia jalan pintas yang mudah lagi murah. Yaitu banyak-banyaklah berbicara atau memberikan pidato pengarahan memakai bahasa Indonesia yang salah dan tidak benar.
Pelajar kita akan merasa dungu lagi kampungan bila tidak tahu bahsa prokem. Malu memakai kalimat-kalimat dalam Bahasa Indonesia yang baik, karena ini berarti bukan pelajar masa kini yang baik lagi modern. Alangkah gagahnya menyebut supermarket daripada swalayan. Alangkah senangnya duduk-duduk di bakery daripada di tukang roti. Lingkungan kita, dari kota besar hingga desa-desa terpencil, toko serba ada hingga warung kecil, sudah memakai nama yang tidak ditulis dalam Bahasa Indonesia.
Jadi, bukankah lingkungan berikut generasi tua kita telah membantu menyediakan ladang yang subur bagi generasi muda untuk tidak kenal dan tidak cinta pada bahasa nasionalnya sendiri? Ditambah lagi, konon menurut para pengamat, metode pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dewasa ini lebih memberat pada pengetahuan bahasa, bukan kemampuan berbahasa. Apa yang mereka terima dalam pelajaran di sekolah, tak banyak manfaat untuk dipraktekkan dalam kehidupan berbahasa sehari-hari di tengah masyarakat. Tentu saja, para pelajar enggan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Cukup sekedar menghafal untuk menghadapi pertanyaan yang mungkin akan muncul dalam ulangan atau ujian.
Lalu, di luar bangku sekolah, mereka kembali akrab dengan bahasa prokem, bahasa campur aduk ramuan sendiri yang dianggapnya lebih komunikatif, langsung dapat dimanfaatkan untuk menambah pergaulan dengan sesama rekan. Di luar bangku sekolah, Bahasa Indonesia yang baik dan benar tak mampu bersaing melawan Bahasa Indonesia yang salah dan tidak benar. Bahasa Indonesia bagaikan pot bunga yang tak pernah tersiram air. Bahasa Indonesia, bagaikan gadis jelita yang kesepian karena mungkin terlalu angkuh dan penampilannya sudah ketinggalan zaman. Di mata anak muda, Bahasa Indonesia adalah porselin antik yang berdebu.
Tulisan oleh HD. Haryo Sasongko (Diterbitkan pada Majalah Panji Masyarakat No 508)
